TRY YOUR HAPPY DAY

Kamis, 23 Desember 2010

Celak Piagam

CELAK PIAGAM

Celak piagam adalah sebutan yang digunakan oleh orang Kerinci terhadap naskah2 kuno yang telah disimpan selama ratusan tahun oleh tiap2 kalbu atau suku. naskah2 tsb beraksarakan tulisan2 " incung" (aksara khas kerinci), sebagian juga ada yg beraksarakan arab. Isi dari celak piagam itu bermacam-macam, diantaranya :

* Berupa Surat dari Sultan atau Raja yang berkuasa pada waktu itu yang memberi titah atau menetapkan hukum dan aturan di bumi Kerinci.

* Tutur Tambo, yang merupakan salinan yang menerangkan asal usul nenek moyang dan hubungan kekerabatan tokoh2 nenek moyang dan hubungan antar kalbu atau suku dan silsilah2 keturunannya.

* Mantra, berupa salinan2 mantra

Dari realitas diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat Kerinci sudah mengenal aksara dengan baik, terbukti dengan dikenalnya tulisan/aksara "incung", yang ,merupakan aksara khas Kerinci. Kita buktikan pula dengan banyaknya ditemukan naskah2 kuno yang kita kenal dengan "Celak Piagam" baik itu yang datang dari Luar, berupa Surat dari penguasa atau Raja diluar wilayah alam Kerinci yang menetapkan hukum di daerah Kerinci, maupun dari naskah dari dalam daerah Kerinci itu sendiri, yang ditulis oleh orang Kerinci sendiri pada masa itu.

Selain ditulis pada kertas, tulisan incung juga banyak ditulis pada tanduk2 kerbau. Pada saaat ini celak piagam itu menjadi benda pusaka dan sebagian dikeramatkan oleh orang Kerinci. Benda2 pusaka tersebut disimpan oleh tiap2 kalbu atau suku. Biasanya disimpan di atas loteng rumah pada salah satu rumah orang yang dituakan didalam sebuah kalbu. Benda pusaka tsb biasanya akan diturunkan pada saaat menjelang Kenduri Adat (Kenduri Pusako) untuk di bersihkan dan diperlihatkan ke khalayak ramai. Biasanya benda pusaka yang berupa celak piagam itu disimpan dengan benda pusaka lainnya (seperti keris, tombak dsb).

Memang tidak ada data dan referansi yang banyak tentang Celak Piagam tersebut, karena memang belum ada upaya yang serius dari Pemerintah daerah dan Dinas terkait untuk mendata, menggali, meneliti dan membuat List serta membukukan tentang peninggalan nenek moyang orang Kerinci yang berkaitan dengan sejarah, seni, kebudayaan ini. Sejauh ini pelestarian, perawatan benda2 tersebut sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat bersangkutan yang menyimpannya. Sehingga kelestarian nya kurang dapat dijaga, selain itu kesempatan untuk meneliti dan mempelajari tentang benda2 peninggalan tersebut sangat sulit, karena benda2 tersebut sulit untuk dilihat oleh masyarakat umum, hanya dikeluarkan pada waktu kenduri pusako saja, yang kononnya dilaksanakan selang 1o tahun sekali. ironis memang seandainya anak cucu kita 10-20 tahun yang akan datang tidak pernah tau kalau di kerinci ada aksara yang kita kenal dengan aksara "incung", dan mereka tdk pernnah tahu bahwa di daerah Kerinci pada zaman dahulu telah ada peradaban yang tinggi dengan aturan2 adat istiadat yang khas, dan mereka juga tdk akan mengenal berbagai jenis benda2 pusaka dan celak piagam tsb, karena tidak ada upaya publikasi yang mendidik, benda2 pusaka masih dianggap TABU dan Keramat oleh sebagaian orang, sehingga kita khawatir keberadaan benda2 pusaka ini akan dilupakan oleh masyarakat Kerinci dan mereka tdk pernah tahu apa2 saja dan bagaimana rupanyan benda2 pusaka tsb, dan tdk tertutup kemungkinan benda2 pusaka itu akan hilang, baik oleh orang2 yg tdk bertanggung jawab ataupun oleh kejadian2 alam.

Upaya2 penelitian tentang naskah2 Kerinci malah dilakukanoleh orang2 Luar Negeri yang tertarik dengan dengan kerinci, bukan dari orang2 Kerinci yang mempunyai silsilah dan kedekatan emosional dengan kerinci, dan tidak juga dilakukan oleh sarjana2 dan para ahli dari Indonesia. Mungkin hal ini disebabkan masih sulitnya akses untuk dapat melihat benda2 tersebut. Salah satu wacana yang sangat menarik untuk dibahas menurut saya adalah ; Merintis MUSEUM BUDAYA ALAM KERINCI. Tentunya harus mendapat dukunga penuh dari Pemerintah Daerah, Kaum adat dan Ulama, serta seluruh masyarakat Kerinci. Walaupun masih ada kontra tentang hal ini bagi sebagian masyarakat yang fanatik yang masih menggap tabu dan keramat benda2 pusaka, namun perlahan pemahaman tersebut dapat kita luruskan dengan dukungan semua elemen masyarakat. Salah satu jalan tengah yang bisa kita tawarkan mungkin dengan memajangkan duplikat beberapa benda pusaka dan naskah2 pusaka di museum budaya, disamping beberapa benda pusaka koleksi asli.

Salah satu penelitian yang pernah dilakukan oleh P Voorhoeve tentang salinan naskah2 Kerinci yang telah dialih aksarakan dan diartikan dapat anda ikuti di Link berikut

Dodol Lubuk nagodang

DODOL KENTANG DARI KAKI GUNUNG KERINCI

SAAT memasuki Desa Lubuk Nagodang di Kecamatan Gunung Kerinci,
Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, ada pemandangan lain yang berbeda
dibandingkan dengan desa-desa lain di sekitarnya.

Secara umum pemandangan di kawasan itu hampir sama,
yakni "pameran" keindahan alam Kerinci, baik berupa hamparan
pepohonan kayu manis (Cassiavera) berdaun merah, padi yang menguning,
kebun sayuran, dan perkebunan teh. Semua keindahan alam itu
dilatarbelakangi oleh gugus Pegunungan Bukit Barisan yang
mengitarinya dengan Gunung Kerinci yang paling tinggi menjulang.

Saat memasuki Lubuk Nagodang, keindahan itu bertambah lagi dengan
bangunan warung-warung berukuran mungil di tepi jalan. Di depan
puluhan warung itu umumnya dipasangi papan reklame bertuliskan "Dodol
Kentang", tentu saja dengan nama perajin masing-masing industri
rumahan itu.

Di Kabupaten Kerinci, industri dodol yang dibuat dari kentang itu
hanya terdapat di Lubuk Nagodang. Warga desa itu pula yang menjadi
produsen dodol kentang yang rasanya gurih tersebut.

"Kami menunggu pembeli yang mampir ke sini. Pembeli umumnya para
pemakai jalan yang melintas di daerah ini, baik warga dari sini
maupun para wisatawan yang datang ke Kerinci," ujar Ny Erna, salah
seorang perajin dodol kentang.

Desa Lubuk Nagodang terletak sekitar 30 kilometer utara Sungai
Penuh, ibu kota Kabupaten Kerinci. Desa itu berada di antara Sungai
Penuh dan kawasan Kayu Aro yang berada di kaki Gunung Kerinci. Di
Kayu Aro terdapat sejumlah lokasi wisata alam menawan yang kerap
dikunjungi turis domestik dan mancanegara.

Di Kayu Aro di antaranya terdapat Danau Gunung Tujuh di
ketinggian 1.950 di atas permukaan laut. Danau ini dikelilingi tujuh
gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Di kayu
Aro terdapat pula Air Terjun Telun Berasap. Dari Desa Kersik Tuo di
kaki Gunung Kerinci, para pendaki juga biasa memulai pendakian ke
gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia itu. Di kawasan ini pula
terdapat hamparan perkebunan teh yang dikelola PT Perkebunan
Nusantara VI.

Dodol kentang asal Lubuk Nagodang adalah salah satu produk yang
berawal dari sentuhan tangan pemerintah. Mulanya, tahun 1990-an Dinas
Perindustrian Kabupaten Kerinci mengadakan pelatihan kepada beberapa
kelompok ibu rumah tangga di desa itu.

Pelatihan ketika itu tidak hanya dilakukan di Lubuk Nagodang.
Kalangan ibu rumah tangga di Desa Sungai Tandak, desa lain di
Kerinci, pun mendapat pelatihan yang sama. Namun, rupanya ibu-ibu
rumah tangga di Lubuk Nagodang yang kemudian terkesan dan
melanjutkannya usaha itu. Dodol kentang dianggap sebagai komoditas
yang bisa menjadi sumber nafkah mereka.

Seusai pelatihan itulah, ibu-ibu rumah tangga Lubuk Nagodang
memproduksi dodol kentang. Tetapi, di tahun-tahun awal produk mereka
kurang laku di pasaran. "Baru sejak tahun 1995 dodol kendang mulai
dikenal dan disukai, terutama oleh para wisatawan yang datang ke
Kerinci. Kini sudah ada sekitar 20 rumah tangga yang memproduksi dan
menjual dodol kentang di Lubuk Nagodang ini," ucap Erna, pemilik
usaha dengan merek Melati itu.

"Kalau pada hari-hari seperti sekarang, kadang dalam satu hari
tidak satu bungkus pun dodol kami laku. Pada hari-hari biasa hanya
rata-rata sekitar 10 bungkus yang laku," kata Wardanis, pemilik usaha
dodol kentang dengan merek Puteri Kembar.

DODOL kentang dari kaki Gunung Kerinci ini memang barang baru.
Sekarang dodol kentang mulai dikenal hingga ke kota-kota besar di
sekitarnya, seperti Padang dan Jambi. Di Kerinci, makanan itu juga
dijual di beberapa toko di Sungai Penuh.

"Kalau pulang ke Padang saya selalu membawa dodol kentang untuk
oleh- oleh. Keluarga di rumah dan teman-teman selalu memesan dodol
kalau mereka tahu saya ke Sungai Penuh," ujar Ikhwan, seorang
pedagang rokok ketika ditemui di salah satu hotel di Sungai Penuh.

Erna mengatakan, bahan baku dodol terdiri atas kentang, kelapa,
dan gula. Komposisi bahan bakunya sama. Selain bahan baku itu, masih
diperlukan tepung terigu agar dodol mengeras dan cepat kering. Untuk
memasak dodol, para perajin umumnya menggunakan bahan bakar kayu
manis kering yang banyak terdapat di kawasan itu.

Wardanis menambahkan, dodol yang selesai dibuat ditaruh dan
diratakan di atas nampan sebelum dipotong-potong dengan ukuran
panjang sekitar empat sentimeter, lebar dan tebal satu
sentimeter. "Selanjutnya dodol itu dijemur agar kering. Kalau
panasnya bagus, dalam satu hari bisa kering," ujarnya.

Para perajin kemudian membungkus dodol dengan kertas minyak.
Sebanyak 20 bungkusan dodol itu seterusnya dimasukkan ke dalam
bungkus plastik yang telah diberi merek masing-masing perajin.
Di warung-warung perajin di Lubuk Nagodang, satu bungkus plastik
dodol kentang harganya Rp 2.500, sedangkan di toko-toko di Sungai
Penuh Rp 3.000.

Ibu Kota Kerinci

Bukit Tengah Disetujui Presiden RI
Monday, 08/11/2010 06:25 WIB

Setelah Kabupaten Kerinci dimekarkan dengan Kota Sungai Penuh, sesuai dengan Undang-undang Nomor 25 Kabupaten Kerinci sebagai kabupaten induk harus meninggalkan Kota Sungai Penuh.

Proses penetapan Bukit Tengah sebagai calon tunggal Ibukota kabupaten juga berjalan alot setelah terdapat pro dan kontra antara tokoh masyarakat Kerinci hilir dan Kerinci mudik.

Gonjang-ganjing terus berjalan tentang penetapan Ibukota Kabupaten Kerinci di Bukit Tengah hilir mudik sejak lima bulan lalu. Kendatipun Bupati Kerinci telah menyerukan kepada seluruh camat dalam Kabupaten kerinci agar mencari lokasi pusat perkantoran Pemerintah Kabupaten Kerinci seluas 300 hektar, hanya Camat Siulaklah yang dapat menyediakan tanah untuk lokasi perkantoran orang nomor satu di Bumi Kerinci ini, yaitu di Bukit Tengah. Ketetapan bisa diambil setelah mendapat persetujuan dari DPRD Kabupaten Kerinci.

Nama Bukit tengah bergema di Istana Negara. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan respon tentang perpindahan Ibukota Kabupaten Kerinci ke Bukit Tengah Kecamatan Siulak.

Maka pada tanggal 8 Juni 2010, Bupati Kerinci H. Murasman, menunjuk Bukit Tengah sebagai I bu Kota Kabupaten Kerinci. Sepekan kemudian,tepatnyatanggal 14 Juni diserahkan kepada DPRD dan awal bulan Juli disetujui oleh Gubernur Jambi. Tanggal 28 Juli mendapat persetujuan dari Menteri Dalam Negeri.

Kini Bukit Tengah resmi menjadi Ibukota Kabupaten Kerinci. Tiada lagi yang akan mengklaim, karena ini sudah merupakan keputusan presiden. Pada tanggal 1 November 2010 tim dari Kabupaten Kerinci telah melaksanakan ekspos di Kementerian Dalam Negeri tentang pembangunan ibukota Kabupaten Kerinci di Bukit Tengah. Pada tanggal 4 November, tim dari Jakarta akan turun ke daerah Kabupaten Kerinci untuk meninjau lokasi pembangunan Ibukota dilanjutkan dengan penyusunan Peraturan Pemerintah.

Melalui Surat Menteri Sekretaris Negara Nomor B/342/M.Sesneg/D-4/10/2010, Presiden menyatakan persetujuannya untuk melakukan penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Kerinci.

Surat Presiden ini keluar berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 188.31/3216/SJ tanggal 9 Agustus 2010 yang disampaikan kepada Presiden tentang permohonan perpindahan Ibukota Kabupaten Kerinci ke Bukit Tengah Kecamatan Siulak.

Dalam surat persetujuan tersebut. Presiden meminta Menteri Dalam Negeri untuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Hukum dan Ham serta menteri dan pimpinan lembaga terkait untuk membentuk panitia antar kementerian.

Dengan ditetapkannya Bukit Tengah sebagai Ibukota Kabupaten Kerinci, mendapat respon dari 27 Desa Siulak. Bupati Kerinci H. Murasman, Sekda kerinci Drs. H. Dasra, MTP beserta unsur muspida, TNI-Polri dan PNS bergabung dengan masyarakat melaksakan gotong royong di Bukit Tengah pada tanggal 23 Oktober 2010 sebagai lokasi perkantoran.

Bupati, Sekda, Dandim0417 Kerinci, Kapolres Kerinci serta anggota DPRD Kabupaten Kerinci ikut mendaki Bukit Tengah dengan menempuh perjalanan dua jam dari lokasi irigasi Lubuk Nagodang kemudian dilaksanakan acara silaturrahim dengan masyarakat di SMK RSBI.

Tokoh masyarakat Siulak Yaruddin, ketika mengadakan silaturrahim dengan seluruh masyarakatusaimelaksanakan gotong royong bersama unsur muspida Kerinci menyebutkan bahwa warga tidak keberatan kalau lahan mereka dijadikan pusat perkantoran Ibukota Kabupaten Kerinci.

"Karena ini sudah merupakan kesepakatan antara aparat pemerintah desa serta depati ninik mamak sudah menghibahkan tanah seluas 300 hektar untuk dijadikan lahan pembangunan perkantoran Ibukota Kabupaten Kerinci", ungkapnya.

Dikatakannya, pemuda, kaum adapt, orang tua, cerdik pandai juga sudah sepakat akan tetap bahu membahu pelaksanaan pembangunan ibukota tersebut sehingga demikian pembangunan akan bisa lancar dilaksanakan.

Yaruddin meminta kepada Pemerintah Daerah untuk tidak menebang tanaman yang ada di dalam kawasan tersebut jika memang tidak diperlukan."Jika ada yang tidak terpakai, kami mengharapkan pohonnya jangan ditebang, kalau terpakai, ya persilakan", lanjutnya.

Bupati Kerinci pada kesempatan ini mengucai terima kasih kepada seluruh warga yang mengiklaskan tanah untuk pembangi pusat perkantoran Ibt Kabupaten Kerinci.

Dia berharap jangan lagi masalah pembeb lahan. Kalau memang selesaikan secara baik sehingga tidak mengha pembangunan. Jangan pula menangguk di air keruh. Bupati meminta warga tidak menebang pohon-pohon yang besar karena nanti ada konsultan yang menentukan mana yang ditebang dan mana yang tidak.

Bupati Kerinci kepada redaksi Kerinci Membangun menjelaskan kompleks perkantoran ini merupakan yang termegah di Sumatera, dibangun dengan dana Rp 1 triliun. Segala sesuatunya sudah kita persiapkan, hanya menunggu pelaksanaannya saja lagi. Untuk merealisasikan hal itu, Pemkab Kerinci telah mengajukan anggarannya kepada Pemerintah Pusat sebesar Rp 1 triliun yang nantinya akan dicairkan dalam beberapa tahap.

Dikatakan Bupati, prioritas utama dalam pembangunan ini Kantor Bupati, Kantor DPRD, Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan beberapa kantor lainnya yang memiliki peranan vital dalam menunjang pelaksanaan pembangunan.

Untuk pematangan lahan, Pemkab Kerinci telah menganggarkan dana Rp 1,8 milyar yang sudah disahkan oleh DPRD Kerinci pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan tahun 2010 dan sudah dievaluasi di Jambi. "Kalau segala admistrasinya sudah selesai maka dananya akan kita cairkan", ungkap Bupati Kerinci. Diperkirakan pada bulan Desember 2010 ini pematangan sudah selesai dilaksanakan sehingga pada tahun 2011,pembangunan segera dilaksanakan.

Kepada seluruh warga, Bupati mengingatkan untuk tidak membuat sikap premanisme ketika pelaksanaan pembangunan. Jika mau minta kerja, mintalah secara baik-baik dengan kontraktor."Saya mau minta bantuan keamanan kepada Kapolres Kerinci agar pelaksanaan pembangunan bisa berjalan lancar", ujar Bupati Kerinci. (Azmal Fahdi)

Sumber: Tabloid Kerinci Membangun edisi Khusus HUT Kerinci Ke-52 Tahun 2010

oleh-oleh khas kerinci dodol Kentang


SEJARAH USAHA
Usaha Industri Dodol Kentang di Desa Lubuk Nagodang dimulai pada Tahun 1994, tatkala Departemen/Dinas Perindustrian Kabupaten Kerinci mengadakan pelatihan kepada anggota karang taruna di Desa Lubuk Nagodang sebanyak 10 orang tentang diversifikasi produk hasil pertanian untuk industri kecil yakni Pembuatan Dodol Kentang. Pada pelatihan tersebut proses produksi pembuatan Dodol Kentang dengan mencampurkan Kentang mentah yang diparut dengan Gula dan Santan kemudian dimasak. Namun tekhnik produksi demikian hanya bisa menghasilkan produk yang daya tahannya sekitar 1 minggu, oleh karena itu pengembangan kegiatan usaha ini hanya bertahan selama 1 tahun.
Pada Tahun 1999 diadakan lagi pelatihan tersebut kepada 12 orang dengan tekhnik yang berbeda, yakni Pencampuran Kentang yang sudah direbus terlebih dahulu dengan Kelapa parut dan Gula yang kemudian dimasak dan dicetak lalu dijemur. Dengan tekhnik demikian usaha Dodol Kentang tumbuh dan dikembangkan oleh UPPKS yang berjumlah 6 orang dan pada Tahun 2000 berkembang lagi menjadi UPPKS dan PUTRI PANCURAN TUJUH.

PENGEMBANGAN USAHA
Dengan diawali pada tahun 2000 tersebut hingga sekarang Usaha Industri Dodol Kentang “ PUTRI PANCURAN TUJUH “ mulai berkembang dengan usaha mandiri dengan perkembangan jumlah produksi sebagai berikut :
• Tahun 2001 sekitar 15 kg per minggu dengan Rasa Pandan;
• Tahun 2002 sekitar 10 kg per hari dengan pengembangan pada rasa produk yang dihasilkan yakni Gula Aren ;
• Tahun 2003 sekitar 25 kg per hari ;
• Tahun 2004 sekitar 15 kg per hari dengan pengembangan pada Dodol Kacang Merah ;
• Tahun 2005 sekitar 25 kg per hari dikembangkan produk dengan Rasa Nenas, Strowberry dan Rasa Durian ;
• Tahun 2006 sekitar 40 kg per hari ;
• Tahun 2007 sekitar 55 kg per hari ;
• Tahun 2008 sekitar 60 kg per hari ;





PROSES PRODUKSI
Kentang Dicuci Direbus Dikupas


Dimasak selama 3 Jam Digiling + Gula + Kelapa Parut

Dicetak dengan ukuran 1 cm x 4 cm Dikeringkan


Dipasarkan Dikemas

PEMASARAN
Hingga saat ini pemasaran Usaha Industri Dodol Kentang “ PUTRI PANCURAN TUJUH “ sudah menguasai lokal yakni daerah Kabupaten Kerinci juga Luar Daerah meliputi Supermarket, swalayan dan toko di daerah Kota Jambi, Padang, Pekanbaru, Bengkulu serta Batam.
Adapun omzet Usaha Industri Dodol Kentang “ PUTRI PANCURAN TUJUH “ sejak berdiri yakni :
• Tahun 2000 sejumlah Rp. 2.880.000,00.-
• Tahun 2001 sejumlah Rp. 17.280.000,00.-
• Tahun 2002 sejumlah Rp. 75.600.000,00.-
• Tahun 2003 sejumlah Rp. 108.000.000,00.-
• Tahun 2004 sejumlah Rp. 162.000.000,00.-
• Tahun 2005 sejumlah Rp. 195.000.000,00.-
• Tahun 2006 sejumlah Rp. 432.000.000,00.-
• Tahun 2007 sejumlah Rp. 594.000.000,00.-
• Tahun 2008 sejumlah Rp. 702.000.000,00.-


Dodol Kentang Kerinci Tembus Pasar Luar Daerah
Dodol Kentang Kerinci Tembus Pasar Luar Daerah Dodol kentang produksi industri rumah tangga di Kabupaten Kerinci kini menumbus pasar luar daerah, terutama di pusat-pusat perbelanjaan. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kerinci Lukman di Jambi, Minggu mengatakan, pihaknya terus membina perajin atau industri rumah tangga agar meningkatkan mutu dodol kentang untuk menarik dan memikat pembeli.

Keyword: Desa Lubuk Nagodang, Dodol Kentang, kentang. Makanan Khas Kerinci, Makanan Khas Jambi, Makanan Khas Kerinci Tembus Pasar International. Makanan Daerah, Oleh-oleh Khas Kerinci

asal mula kerinci

PEMUKIMAN NENEK MOYANG ORANG KERINCI
Nenek Moyang orang Kerinci selalu membuat pemukiman pada daerah2 yang subur, yang sering disebut ; talang, dusun, koto. Perkembangan pemukiman ini diperkirakan terjadi pada zaman SUGINDO. Pada masa Sugindo perkembangan kehidupan masyarakat sudah jauh lebih maju, mereka sudah mulai hidup menetap.
Mengacu pada tempat penemuan benda2 peninggalan sejarah, maka diketahui pemukiman2 yang pernah dibuat nenek moyang pada zaman dulu diantaranya terletak di:

1. Disekitar Gunung Masurai, Danau Depati Empat (Danau Besar), Danau Pauh. Diperkirakan daerah2 ini merupakan Lokasi Dusun Purba; Renah Punti, Talang Menggala, Muara Penon, Durian Tinggi dan Sungai Kuyung. Kelima Dusun itu diperkirakan berada disekitar daerah Serampas dan Sungai Tenang Kecamatan Jangkat. dan disekitar daerah itu diperkirakan juga terdapat Dusun Purba Koto Mutun, Renah Lipai Tuo, Pelegai Panjang, yang berada dalam Kecamatan Muara Siau.
2. Disebelah Selatan Danau Kerinci sekitar Dusun Muak sekarang, terdapat Dusun Purba Jerangkang Tinggi.
3. Disebelah tepi Barat Danau Kerinci sekitar Dusun Jujun dan Benik sekarang.
4. Di dataran Tinggi diatas kota Sungai Penuh, diantara Bukit Mejid dan Bukit Koto Tinggi, disekitar daerah Koto Pandan sekarang.
5. Disekitar perbukitan diatas Dusun Kumun sekarang
6. Disekitar perbukitan diatas Sungai Liuk, diperkirakan tempat dusun purba Koto Bingin
7. Disekitar perbukitan diatas Simpang Belui dan Semurup, diperkirakan tempat dusun purba Koto Limausering.
8. Disekitar Dusun Hiang diperkirakan terdapat dusun purba Koto Jelatang.

Lokasi Dusun Purba telah tumbuh banyak dusun yang terbentuk secara bertahap dalam selang waktu yang cukup lama, sebagai contoh :

1. Dari Dusun Purba JERANGKANG TINGGI melahirkan Dusun Pulau Sangkar, Sanggaran Agung, Jujun, Pulau Tengah, Siulak Mukai dan Pengasi.
2. Dari Dusun Pulau sangkar kemudian pindah ke utara melahirkan Dusun Lekuk 33 Tumbi yang kemudian berubah nama menjadi Dusun Terutung. sebagian berpindah ke arah barat melahirkan dusun Lekuk 50 Tumbi atau Dusun Lempur sekarang. Dari dusun Pulau sangkar melahirkan Dusun Pondok, Muak, Lolo, Lubuk Paku, Keluru, Semerap.
3. Dari Dusun Sanggaran Agung berkembang menjadi Dusun Tanjung Pauh Mudik, Pondok Siguang, Tanjung Pauh Hilir, Talang Kemulun.
4. Dari dusun Pengasi berkembang menjadi Dusun Pulau Pandan, Pendung Talang Genting,, Tebing Tinggi, Seleman, Tanjung Batu, Pidung. Untuk Seleman sebagian penduduknya berasal dari Dusun Purba Koto Jelatang.
5. Dari Dusun Pulau Tengah berkembang menjadi Dusun Koto Tuo dan Koto Dian.
6. Dari Dusun Jujun berkembang menjadi Dusun Benik.
7. Dari Dusun Siulak Mukai di Tanah Sekudung, berkembang menjadi Dusun Mukai Mudik, Mukai Tengah, Mukai Ilir, Siulak Gedang, Siulak Panjang, Lubuk Nagodang, Siulak Kecik, Siulak Tenang, Tanjung Genting, Koto Kapeh, Sungai Pegeh, Dusun Baru, Sungai Labu.

peninggalan sejarah

Tulisan Asli Kerinci “Incung” Terancam Punah
Ditulis oleh Admin pada tanggal:26/04/2010 di Tradisi | 0 Comment |

Dapunta Online – SEORANG SASTRAWAN Kerinci, Provinsi Jambi, Amri Suwarta mengungkapkan bahwa beberapa tradisi daerah ini, salah satunya “Incung”, sekarang terancam punah karena kurang dilestarikan.

Ketika dihubungi di Jambi, Sabtu, ia menjelaskan, masyarakat adat “Bumi Sakti Alam Kerinci” sebutan Kerinci yang meliputi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh merupakan salah satu pusat peradaban masa lampau yang memiliki keunikan dan tradisi yang spesifik.

Sebagai daerah yang berada di wilayah paling barat Provinsi Jambi, masyarakat Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai penuh memiliki ciri khas tersendiri, antara lain memiliki bahasa dan tulisan serta memiliki beragam peninggalan budaya masa lampau seperti peninggalan batu megalitikum dan neolitikum.

Amri Suwarta yang didampingi Yusvet Helmi mengatakan, Kerinci memiliki bahasa yang disebut dengan Bahasa Kerinci dan tulisan yang disebut dengan Incung.

Namun saat ini masyarakat, terutama generasi muda tidak banyak yang memahami atau mengenal Incung.

Sejumlah seniman seperti Iskandar Zakaria dan almarhum Prof DR Amir Hakim Usman, mantan guru besar IKIP Padang, termasuk sedikit orang yang pernah menggali dan membukukan tulisan asli Kerinci, katanya.

Sementara itu, Yusvet Helmi mengimbau Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai penuh untuk melakukan penelitian kembali terhadap tulisan Incung, jika perlu dibukukan dan dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di sekolah.

“Incung harus kita lestarikan, salah satunya melalui sekolah dengan memasukkan senagai salah satu muatan lokal,” katanya.

Incung banyak ditemui pada berbagai peninggalan budaya dan ditulis pada tanduk kerbau dan daun lontar serta peninggalan budaya lainnya.

Ke depan diharapkan Pemkab Kerinci dan Pemkot Sungaipenuh perlu membangun museum budaya. Meski secara administrasi kenegaraan keduanya dipisahkan, namun secara budaya masyarakat kedua daerah ini merupakan satu kesatuan adat dan budaya yang tidak dapat dipisahkan

peninggalan kerinci


Bumi Kerinci Simpan Benda Purbakala




Kabupaten Kerinci, yang merupakan kabupaten paling barat Provinsi Jambi, tidak hanya memiliki keindahan yang tiada duanya, namun juga memiliki kebudayaan dan peradaban yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Hal tersebut terbukti, dengan banyaknya peninggalan-peninggalan bersejarah, yang tersebar di semua wilayah Kabupaten Kerinci. Seperti benda purbakala yang baru-baru ini ditemukan di Desa Siulak tenang, tepatnya di SMA 2 Gunung Kerinci. Siswa yang tengah asyik mengikuti kerja bakti, untuk membersihkan lingkungan sekolah, tiba-tiba terkejut karena cangkul mereka mengenai sesuatu benda yang cukup keras. Setelah diangkat, ternyata benda tersebut adalah pecahan guci dan mangkuk yang terbuat dari tembikar (tanah liat). Benda-benda bersejarah tersebut awalnya ditemukan pada kedalaman satu meter. Namun karena merasa penasaran, akhirnya siswa meneruskan penggalian, dan hasilnya pada kedalaman 1,5 meter, kembali ditemukan tumpukan pecahan guci dari gerabah. Hal tersebut sontak membuat siswa lainnya berdatangan, karena ingin menyaksikan temuan langka tersebut. Pihak sekolah yang tidak ingin ke colongan, langsung melaporkannya kepada Pemkab Kerinci, agar bisa melakukan penelitian terkait temuan tersebut. “Saat itu siswa yang bertugas membersihkan got di depan sekolahnya menggali dengan cangkul. Pada saat galian mencapai satu meter, didapati tumpukan pecahan keramik dan gerabah, siswa kemudian menggali sampai kedalaman 1,5 meter guna mengangkatnya,”ujarnya Madar, guru di sekolah tersebut. Begitu menerima informasi, Pemkab Kerinci melalui Disbudpora, langsung menujui lokasi untuk melihat hasil temuan tersebut, yang berada persis di dalam got sekolah. Sesampainya disana ternyata sekitar satu karung benda purbakala tersebut sudah diangkat oleh siswa. “Ya, saat ini benda-benda tersebut sedang diteliti. Sedangkan untuk lokasi penemuan benda tersebut sudah diamankan. Pihak sekolah untuk sementara dilarang mengganggu tempat tersebut ,”ujar Kadisbudparpora, Arlis Harun, saat dikonfirmasi Tribun, Kamis (9/12) kemarin. Menurut Arlis Harun, temuan tersebut sudah dilaporkan ke BP3 dan Museum Jambi, agar bisa segera turun dan ikut melakukan penelitian, untuk mengetahui secara persis umur benda-benda tersebut.”Hingga saat ini belum bisa ditebak berapa umur keramik-keramik tersebut,”katanya. Selain itu lanjutnya, petugas Disbudparpora, yakni Budayawan Iskandar Zakaria, yang juga merupakan penjaga benda cagar budaya di Kabupaten Kerinci, sudah diminta melakukan penelitian di lokasi. “Besok (Jum’at) Pak Iskandar akan datang langsung ke lokasi, untuk melakukan penelitian lebih lanjut,”jelasnya. Budayawan Kerinci, yang juga merupakan sesepuh desa di Kecamatan Gunung Kerinci, Amrisuarta, saat diminta komentarnya terkait penemuan tersebut, mengatakan bahwa di lokasi penemuan benda-benda bersejarah tersebut, diduga kuat merupakan pusat peradaban Kerinci Kuno yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. “Dari lokasi sekolah tersebut memang merupakan lokasi peradaban kuno. Dari lokasi itu, hingga ke kawasan perbukitan sungai Betung, sudah sering ditemukan benda-benda bersejarah di seperti guci, mangkuk, piring, dan berbagai peralatan kuno lainnya,”ungkapnya. Diharapkan kedepan lanjutnya, instansi terkait, yakni Disbudparpora dan BP3 serta museum Jambi agar menindak lanjuti temuan penting tersebut, untuk mengetahui asal-usul masyarakat kerinci melalui kesenian dan kebudayaan. “Kita tidak menginginkan warisan bersejarah tersebut rusak begitu saja. Padahal peninggalan-peninggalan kuno tersebut, mampu memberikan gambaran bagaimana kehidupan nenek moyang kita dimasa lalu,”tegasnya. Sementara itu, Iskandar Zakaria, saat dikonfirmasi beberapa waktu yang lalu, juga mengatakan Kabupaten kerinci memiliki beragam peninggalan prasejaran, baik berupa bekas pertanian, ataupun peralatan-perlatan rumah tangga. “Saya sendiri sudah beberapa kali melakukan penggalian. Dari pengalaman tersebut, saya mengetahui ada ribuan peninggalan bersejarah yang masih terpendam didalam bumi sakti alam kerinci. Namun sayang, hingga saat ini pemerintah belum bisa menyiapkan museum di kabupaten Kerinci,”sebutnya. Bahkan, ia mengaku beberapa kali telah menawarkan rumahnya menjadi museum, dengan koleksi keramik peninggalan dinasti-dinasti di Cina, yang bernilai miliaran rupiah tersebut, namun ternyata juga tidak mendapat perhatian pemerintah. “Kalau pemerintah mau, saya rela rumah beserta koleksi peninggalan bersejarah yang saya miliki menjadi museum,”pungkas Iskandar Zakaria, yang juda merupakan penulis Al-Quran Terpanjang di dunia tersebut, sehinggal namanya masuk daftar dalam MURI. (edijanuar)

cerita rakyat

Salido, Nagari Lumbung Emas dan Mitos Naga Sakti Gunung Kerinci


Salido komunitas masyarakatnya pernah (abad ke-17) berbentuk masyarakat kecil multi-nasional antara orang Belanda, Belgia, Jerman, Malagasi, maupun negro dari Afrika Selatan. Bahkan pada pertengahan alaf (milinium/ ribuan tahun) pertama dalam cerita rakyat di lidah tellerhistory (tukang cerita), ada masyarakat Cina, Hindustan, Malaka dan Sri Lanka, ketika itu Salido merupakan kerajaan makmur, penuh dengan lumbung tidak saja padi tetapi emas laksana bukit yang berhimpit-himpit.

Suatu hal yang menarik bangsa asing datang dan tinggal di Salido di antaranya disebabkan karena Salido pernah bertabur emas dan perak itu, kemudian di daerah ini terdapat tambang emas terbesar di pantai selatan Sumatera bahkan tambang tertua di Sumatera. Orang-orang asing itu boleh dikatakan “demam Salido”. Secara antropologis Rusli Amran (1981:298) menekankan, kalau ada orang Salido dan Painan yang raut mukanya mau pun ukuran badannya tidak mirip pribumi mungkin itu peninggalan “demam Salido”. Karena dulu banyak orang asing di daerah ini, demam emas Salido. Salido sesuai dengan maknanya gerbang, diceritakan ketika itu dirasakan betul Salido sebagai gerbang dunia, lewat jalur selatan perairan Samudra Indonesia.

Belanda melalui pucuk pimpinan VOC di Amsterdam sangat harap produk emas Salido. Harapan tergantung banyak pada pencari emas di bebepa lokasi tambang di Salido. Pencari emas itu tidak hanya penduduk asli, tetapi bermacam jenis orang, ada yang berbadan besar, berewok mukanya, bermata biru, berbahasa aneh. Dipastikan mereka datang dari berbagai negara seperti Jerman, Belanda sendiri, Begia dll. Rakyat pun menyerahkan pengolahan lahan tambang emas pada Belanda misalnya kepada Inspektur Pits tanpa paksaan, tahun 1670. Desember tahun ini, dikirim ke Salido ahli tambang (meester bergwerker) bernama Friedrick Fisher didampingi 9 orang pembantu. Dipersiapkan segala sarana pertambangan serta buruh yang dibutuhkan. Dalam proses penambangan terlalu banyak buruh yang mati didera penyakit, namun penambangan tidak boleh berhenti. Buruh dari mana saja didatangkan, asal mau bekerja akan digaji besar. Disediakan tangsi dan sardadu menjaga keamanan tambang tetapi kematian buruh semakin banyak. Dari Bataavia didatangkan orang Portugis untuk membantu keamanan tambang. Sudah empat tahun (1674) bekerja menambang emas hasilnya mengecewakan meskipun ahli tambangnya didatangkan dari Eropa.

Dari pengalaman Belanda lebih untung membeli dari rakyat dibanding menambang sendiri, bahkan hasil tambang rakyat kualitas emasnya pun tinggi. Karenanya Batavia mengusulkan kegiatan pertambangan dihentikan. Ahli tambang boleh pulang. Penambangan kembali diserahkan kepada rakyat. Namun para pemimpin 17 VOC di Amsterdam ngotot, karena keserakahannya kembali memerintahkan penambangan dilanjutkan.
Ahli tambang kembali dikirim dari Eropa. Memang benar-benar demam emas. Ide gila muncul, tidak dengan cara menambang emas langsung, tetapi mengangkut tanah yang berisi emas dari Salido ke Eropa. Kapal-kapal Belanda sibuk mengangkut tanah untuk ditambang di Eropa. Namun hasilnya tetap menyedihkan. Tidak putus asa, buruh didatangkan lagi dari Malagasi, Timor, Nias, Negro Afrika Selatan dll. tetapi emas yang diperoleh tidak seimbang dengan tenaga dan dana yang dikeluarkan. Bahkan tenaga yang didatangkan itu baik yang ahli dan mengaku ahli maupun buruh banyak yang mati. Masih belum putus asa, tahun 1676 Belanda mengirim lagi seorang direktur, namun meninggal di jalan. Tahun 1679 dikirim lagi dari Amsterdam 59 orang ahli tambang, kemudian ditambah lagi. Mei 1680 28 ahli tambang dikirim hanya tinggal 3 orang yang hidup selebihnya mati. Dari catatan Daghregister Castael Batavia, Juli 1981 dikirim buruh sebanyak 236 orang dari Batavia, setelah 6 bulan kemudian yan sampai di Padang hanya 140 orang selebihnya mati di perjalanan.

Pimpinan VOC di Amsterdam masih bernafsu. Inspektur Pits melapor ke Batavia, prospek tambang di Salido baik. Berbeda dengan laporan ahli Jerman Benjamin, 12 Maret 1682 bahwa prospek tambang emas Salido tidak menguntungkan sama sekali. Hanya membuat duait habis dan membanwa bencana korban jiwa buruh. Namu Amsterdam lebih mempercayai laporan palsu Inspekturnya Pits. Karena kegiatan tambang dilanjutkan. Samapai 10 tahun dihitung-hitung emas tidak dapat, kerugian dana dan korban jiwa luar biasa besarnya. Tahun 1691 dihitung interval waktu 9 tahun (1681-1690) produksi emas hanya seperlima dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk biaya tambang. Tahun 1690-1694 rugi lagi ratusan ribu gulden. Dalam terminologi lain kegiatan tambang rugi total. Namun pucuk pimpinan VOC di Amstardam masih penasaran, tahun 1720 dikirim lagi 2 ahli tambang ke Salido. Masih menderita kerugian. Akhirnya tahun 1728 keigatan penambangan emas Salido oleh VOC dihentikan, kegiatan selanjutnya dikontrakan kepada Tuanku Panglima di Padang seharga 80 ringgit setiap tahun.

Melihat Tuanku Panglima mulai berhasil menambang emas di Salido, VOC kembali berubah pikiran. Pucuk pimpinan VOC di Amsterdam kembali mengirim ahli tambang di bawah pengawalan ketat Bruynink serta tentaranya. Ia punya kekuasaan besar. Pulau Cingkuk segera ditundukannya. Ia kirim kapal ke Malagasi mencari tenaga buruh tambang. Namun tetap Belanda gagal. Tahun 1737 penambangan emas Salido diehentikan lagi. Belanda ingin mengontrakan tambang ke pihak lain 160 ringgit setahun, tetapi orang yang akan mengontrak pula tidak ada, maka otomatis penambang berhenti total.

Kemudian 150 tahun pasca VOC Belanda ingin menambang emas lagi di Salido, dipimpin seorang insinyur pertambangan Belanda Verbeek. Ia melakukan survey. Ia memakai ahli dari Jerman. Ternyata tidak juga berhasil. Bahkan ia menuduh ahli Jerman itu dalam eksplorasinya melakukan tindakan manipulatif dalam mengirimkan contoh yang katanya emas berkadar tingi ternyata kadarnya rendah. Lalu ia minta bantuan ahli Amerika, tesebut nama Spalding. Ia bekerja di tambang emas Salido, hasilnya memberi angin segar. Tahun 1911 didirikan Salido Mijnbow Maatschappij, tahun 1912 berganti nama menjadi Kinandan Sumatera Mijnbouw Maatschappij (Rusli Amran, 1981:228). Ketika itu ada kenaikan produksi, namun tidak terlalu banyak menghasilkan uang. Akhirnya tambang ditutup juga, dan benar-benar ditutup dasawarsa ke-2 abad ke-20.
Belanda yang menyebut pencari emas di Salido dan Painan digambarkan sebagai “tolol dan kekanak-kanakan”, ternyata rakyat dapat menambang emas dan produknya berkualitas baik. Sedangkan Belanda menggunakan tenaga ahli dan alat tambah canggih ketika itu, gagal total. Mana yang lebih hebat, yang jelas mengisyaratkan emas Salido harus ditambang rakyat, kalau pun diolah dengan teknologi canggih dan menggunakan tenaga ahli rakyat Salido jangan hanya dapt gigit jari saja. Siapa tahu pengalaman kegagalan Belanda menambang emas di Salido, karena melanggar janji raja Tumenggung Cemeti Alam beristana di Malonda dlam “Salido 1000 Tahun yang Silam”, yakni banyak membunuh, khianat dan fitnah dalam politik adu dombanya, sehingga emas lenyap dari penambangannya. Pengalaman yang lalu ini oleh Pesisir Selatan ke arah otonomi daerah dan kembali membangun pertambangan emas sebagai harta karun di Salido yang mempunyai deposit yang sulit dihitung, patut menjadi renungan.

Mitos Naga Sakti Kerinci dan Kerajaan Lumbung Emas

Kisah Salido (dalam Kerajaan Lumbung Ameh beristana di Malonda) 1000 tahun yang silam, pernah (1981) ditulis Indra Putra, diterbitkan Yudistira. Salido pada pertengahan alaf pertama termasuk negeri dalam kerajaan, bernama Kerajaan Lumbung Ameh dengan ibu kerajaan adalah Malonda, sehari semalam berjalan ke arah selatan kota Painan sekarang. Rajanya bernama Baginda Tumenggung Cemeti Alam (apakah saudara dari Mandeh Rubiyah, tidak ada ceritanya, tetapi yang benama Ketumenggung ada sebagai salah seorang saudara Mandeh Rubiyah di Indrapura, sekarang keturunnya di Lunang, baca bab Inrapura). Kerajaan yang sesuai dengan namanya Lumbung Ameh (emas) amat makmur bertata emas, aman sentosa. Raja rela berkorban langsung menyelamatkan rakyatnya sa’at ditimpa malapetaka, karenanya raja dicintai rakyat. Bahkan raja rajin turun kebawah menanyakan apakah rakyatnya punya persiapan pangan apa tidak dan ia raja yang adil.

Cerita kerajaan yang gemerlapan dengan emas yang lumbung emasanya bagaikan bukti berhimpit-himpit diceritakan dalam 7 episode “Salido 1000 Tahun yang Silam” yakni (1) Naga Sakti Gunung Kerinci, (2) Peristiwa Mengejutkan, (3) Dua Peramal Gadungan, (4) Giliran Ajo Gadang Ota, (5) Ganjaran nan Setimpal I, (6) Ganjaran nan Setimpal II dan (7) Emas di Sepanjang Sungai Salido.

Ketujuh cerita mengisahkan sejarah emas di Salido dan kerajaan Lumbuh Ameh yang aman dan makmur. Ceritanya, dulu ada Sungai Salido yang batu dan pasirnya semuanya emas. Dalam Commonsence (pemahaman awam) Sungai Salido tidaklah yang ada di Salido sekarang, tetapi sudah tenggelam karena rakyat telah melanggar janji raja yakni tidak mencuri, tidak khianat, tidak berbauat fitnah, tidak membunuh (menghilangkan nyawa atau menghilangkan peranan orang) dll. Janji itu diterima raja dari munajatnya di pinggir Sungai Salido dari dewa berkaitan dengan penjernihan air Sungai Salido yang pernah cemar, keruh pekat busuk bau nanah. Cemarnya Sungai Salido itu, karena seokor Naga Sakti dari Gunung Kerinci yang digambarkan sebagai Induk Emas. Ia bisa terbang secepat kilat dan sa’at terbang di langit terang benderang seperti satelit melintas. Tak ada yang dapat menghambat, apa yang menghambat putus.

Apakah dari sini kisah Bukit Putus di perbatasan Painan dan Salido, putus karena dilanda induk emas dari Gunung Kerinci itu yang ketika itu hendak mandi ke Sungai Salido mengobati penyakit eksim yang dideritanya dan membuat kulitnya sudah bernanah, belum ditemukan cerita untuk itu. Yang ada diceritakan Naga itu mandi di Sungai Salido atas petunjuk Dewa Air yang beristana di Lautan Teduh. Naga itu berguling-guling mandi dengan Air Sungai Salido, membuat bumi dan perbukitan sekitar terbalik dan Air Sungai menjadi keruh, cemar, busuk berbau nanah bahkan terinfeksi bakteri yang berasal dari penyakit naga itu. Rakyat menderita, kemana air minum mau dicari, jangankan air itu bisa diolah untuk minum untuk dipegang saja mengerikan. Banyak ahli nujum palsu mengambil kesempatan pura-pura mampu mencari penyebab dan pura bisa berupaya menyernihkannya, namun tidak pernah bisa.

Akhirnya raja Tumenggung Cemeti Alam sendiri di tengah malam pekat merngkak ke pinggir sungai itu dengan air mata berlinang berdo’a kepada tuhan ketika itu disebut dewa. Ia memberanikan dirinya memegang air yang busuk itu dan membasuhkan kemukanya. Ia nekat, biarlah dia mati asal rakyat jangan sengsara. Ia meminta kepada Tuhan kabulkan do’anya, jernihkan sungai ini dan jadikanlah sungai itu kekayaan rakyat. Doanya makbul dan menerima jaji tadi, janji tadi diteruskan kepada rakyat. Air Salido kembali jernih.

Naga sakti dari Gunung Kerinci yang penyakit menahunnya sembuh dengan air Sungai Salido membalas jasa, menebarkan emas sepanjang sungai Salido. Berkilauanlah Sungai Salido dengan emas karena semua pasir dan batunya menjadi emas. Negeri Salido dalam Kerajaan Lumbung Ameh menjadi kaya raya, makmur dan aman sentosa. Banyak orang asing datang seperti Cina, Hindustan, Srilangka dan Malaka. Raja-raja utara dan selatan hendak mencoba menyerang dan merampas emas, tetapi Salido kuat, karena Walinegerinya kompak dengan raja serta rakyat dan menjadi power besar. Kekayaan melimpah ruah. Rakyat hidup dalam serba berkecukupan. Tidak terdengar jeritan derita dan kelaparan, tentu pula tidak dikenal busung lapar yang memalukan karena negeri menjadi surplus beras dan raja mengetahui pasti dan selalu turba mencek tingkat persediaan bahan pangan rakyat bahkan tahu denyut nadi mereka. Karenanya tidak ada suara senjang dan spanduk demonstrasi menentang raja, bahkan rakyat patuh dan mencintai rajanya.

Tetapi sepeninggal raja, digantikan adiknya, janji dilanggar. Judi, mencuri, khianat, fitnah, membunuh dll. menjadi-jadi. Akibatnya petaka datang lagi, Sungai Salido lenyap misterius ditelan perut bumi dan emasnya terkubur di dasar sungai dan ditelan perut pebukitan (Gunung Harun sekitar- sekarang bekas pertambangan emas) ditumbuhi belantara.
Emas terdapat di ti ketiga luhak (Tanah Datar, Agam, Lima Kota). Namun yang terbanyak adalah di tiga belas kota seperti Lubuk Silasih, Munggutanah, Tambanggadang, Alahanpanjang, Supayang, Salido dekat Bandar Sepuluh, dll. Mengenai pencarian emas ini, banyak diceritakan Rusli Amran (1981:222, 278) mengutip Couperus (dalam Tiidschr, 5, 1856) dalam catatannya “Eenige Aanteekeningen Betreffende de Goudproductie in de Padangsche Bovenlanden (Beberapa Catatan tentang Produksi Emas di Padang). Juga direkam oleh J.E.Meyier (1911) dalam bukunya Goud- en Zilvermijn te Salido (Tambang Emas dan Perak di Salido), juga diliput S.Muller (1846) dalam bukunya Bijdragen tot de kennis van Sumatera (Sumbangan untuk Pengetahuan tentang Sumatera).

Tentang emas di Salido, ada beberap rujukan utama di antaranya Ir.G.B.Hoogenraad (de Ingenier in Nederlandsch Indie 1e jrg. No. 1 Januari 1934) dalam catatannya “De Salida Mijn” (1827); Dr. h.c.Ir.N.Wing Easton (de Ingenieur in Nederlandsch Indie, 1936) dalam catatannya Salida Mijn, Een nog onbekende in Nederlandsch Indie (1827).
Rakyat menambang emas mempunyai cara tersendiri. Mereka punya kiat mencari lokasi emas. Ada cara tradisional ada takhayyul merupakan pengalaman turun temurun. Mungkinkah juga ada sangkut pautnya dengan janji Raja Tumenggung Cemeti Alam dalam Kisah Salido 1000 Tahun yang Silam. Namun dari cerita rakyat di antara menandai lokasi berisi emas, di waktu senja banyak beterbangan api-api (sejenis serangga yang kelap kelip di temaram senja). Kalau emas itu di pebukitan, ditandai dengan tanaman yang tumbuh di lokasi emas itu adalah batang sikaduduk dan suryan. Di sana ada air mengalir kuning kemerah-merahan, terdengar sayup suara “titik galang” atau siangkak badangkuang yang nada suaranya bisa diperdengarkan oleh pandai emas.

cerita rakyat kekrinci

Cerita Rakyat kerinci
Kisah : Harimau Tingkes
Pada sebuah dusun.Hiduplah seorang anak dengan seorang ibu,yang ditinggal mati sang suami.Namun beberapa waktu kemudian terbetik kabar,bahwa sang ibu tanpa suami malah hamil.Sang anak merasa malu.hingga anak meminta kesedian ibunya untuk meninggalkan desa secara sembunyi-sembunyi.
by:Zikra Melinda
"ibu sebaiknya,ibu tinggal diladang.Karena kehamilan ibu akan membuat gaduh.Soalnya,ibu hamil tanpa suami"Ujar sang anak."Baiklah anakku.Aku akan ikuti pendapatmu.Ibu sebenarnya,juga malu"imbuh ibunya dengan sedih.

Dalam dua bulan kedepan.Sang ibu telah melahirkan. Sementara sang anak yang secara terus nerus mengantarkan makanan ibunya,yang tinggal di ladang.anaknya tinggal di dusun.
"Adik dimana bu?"Ujar anaknya yang baru datang membawa makanan dari desa"Itu adikmu,lagi bermain,main dibawah pohon"Ujar maknya menunjukan adiknya lagi main dibawah pohon.

Merasa heran,namun belum berani menanyakan secara panjang lebar.Soalnya,yang dilihat dibawah pohon adalah harimau kecil."Kok,adik saya harimau"Ujarnya membathin dalam hati.
Setelah adiknya dewasa.Kakaknya,masa itu, ada lomba mengadu ayam.disalah satu dusun.Kakak membawa ayam aduan.Selama membawa ayam aduan dengan menghadap kebelang.Ia merasa heran."Kenapa ayam ini.Setiap saya hadapkan kebelang,Selalu gelisah dan meraung.

"Ada apa dibelakang'Ujarnya membatin dalam hati.Tentunya,ayam melihat harimau,tentu ribet."Apakah,karena adiku,yang harimau itu"Ujar membathin.Sambil geleng-geleng kembali mendadak reflek mencabut golok tajam langsung menebas kaki adiknya.

"Tentu,kamu yang membuat ayamku gaduh dan ribet"ujar kakaknyan dengan emosi,hinngga membuat adik lari terbirit-birit sambil meraung kesakitan.Hingga mengena jari kaki kirinya.
cerita asal muaasak kisah harimau tingkes hingga kini kisah masih menjadi buah bibir masyarakat.

Note: cerita rakyat Gunung raya.